Tuesday, April 25, 2017

Satu Paket



Kakak gw berpesan sama gw “jangan menikah dengan orang yang kamu kagumi, karena nanti akan banyak kecewanya.”


Begitu obrolan sore hari saya dengan teman saya yang (sebut saja) bernama Ulik.
Pernyataan tersebut seketika membuat hati saya mencelos. Wah, saya setuju. Karena yang namanya manusia itu ngga ada yang sempurna. Ngga ada yang 100% baik. Ngga ada yang 100% bisa memenuhi kemauan kita. Intinya mah, pasti ada flaws nya.

Malamnya saya liat postingan Instagram junior saya (@neysanadia).

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.
Or if I believe other than you, at least pause before you correct my view,
Or if my emotion is less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.
Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.
You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.
(An excerpt of “Please Understand Me” by David Keirsey)


Dari situ saya mikir, memang betul ya. Dalam hubungan antar-manusia, maklum dan sabar adalah kompetensi yang perlu kita miliki karena manusia itu hadir dalam bentuk paket yang seringkali (selalu?) ngga sempurna.

Isi paketnya kurang lebih begini:
Satu paket manusia dengan kelebihan maupun kekurangan,
Sehat dan sakitnya,
Nyenenginnya dan nyebelinnya,
Orang itu sendiri dan keluarganya (jika masih ada),
Rasa senang, sedih, marah, kecewa, takut, dan egoisnya,
Kesukaan dan ketidaksukaannya,
Baik dan buruknya,
Masa lalunya dan masa kini-nya,
Kerja keras dan lelahnya,
Semangatnya dan tidak semangatnya,
Kelembutan dan kekerasannya,
Harapan dan kekecewaannya,
Sabarnya dan marahnya,
Rajinnya dan malasnya,
dan lain-lain.

Memang, menghadapi, mengerti, dan menerima manusia itu perlu “ruang karet” yang cukup fleksibel supaya kita sendiri ngga merasa sesak dan orang bersama kita pun ngga merasa sesak. Ruang karet itu adalah sabar dan maklum. Dan… saya pikir ruang sabar dan maklum itu bisa diperluas dengan komunikasi asertif 😊

Selamat pagi!

Friday, March 3, 2017

Buku Kedua: Hidup Sederhana

Ini adalah buku kedua yang saya baca tahun ini. Jadi ceritanya, waktu itu saya sedang iseng main ke Gramedia dan ngga ada niat beli buku sama sekali. Pengen liat-liat aja. EH, ternyata hari itu saya malah beli 2 buku. Hehehe.
Salah satu dari buku yang saya beli adalah buku Hidup Sederhana karangan Desi Anwar. 

Begini tampilan bukunya. Daftar isi bukunya tertulis di cover buku ini.


Sebelum saya beli ini buku, saya sempat baca-baca sedikit (ada buku sample yang bisa dibaca) kemudian jadi tertarik untuk beli karena ngerasa “ringan” pas baca. TERNYATA, memang bukunya bagus :)

Buku ini mengupas tentang berbagai aspek hidup, mulai dari pengasuhan orangtua, pertemanan, kesedihan, bagaimana bangkit dari ketakutan, menyadari apa yang kita makan, tentang beli barang, tentang hewan peliharaan, tentang bersyukur, dan lain-lain. Kemudian, membaca buku ini juga membawa saya “jalan-jalan” plus refleksi diri. Saya jadi merasa jalan-jalan karena di dalam buku ini ada banyak sekali foto yang diambil oleh Desi Anwar saat dirinya jalan-jalan. Foto-foto yang disajikan sebagian besar foto situasi sehari-hari di suatu tempat. Ada foto orang etnis tertentu dengan pakaian tradisionalnya, foto candid seniman di depan karya-karyanya, foto karya seni, foto pemandangan, bahkan foto sandal jepit. Hahaha. Membaca buku ini juga membawa saya untuk melakukan banyak refleksi diri terhadap hidup saya sehari-hari. Pokoke, setelah baca buku ini, saya jadi ngerasa lebih sadar akan apa yang sedang saya alami dan jadi lebih "ringan" aja. 

Oh ya, ini bagian favorit saya dari buku Hidup Sederhana yang waktu itu bikin saya kepincut untuk beli. Hehe.  

MENGGENGGAM HARI INI – CARPE DIEM
Yang lucu tentang pikiran itu adalah bahwa pikiran selalu bekerja. Pikiran itu seperti mesin yang tidak pernah mati, bahkan tanpa seorang pun yang menjalankannya. Bahkan ketika tubuh sudah lelah dan kita sudah kehabisan obrolan, pikiran masih saja tidak kunjung lelah, merencanakan, memikirkan, dan mengomentari setiap hal, baik yang nyata maupun yang hanya rekaan. Pikiran terjebak dalam kecemasan, dalam pertanyaan-pertanyaan, dalam dugaan-dugaan; terperangkap dalam pengandaian “bagaimana kalau dan tetapi” serta memutar ulang kejadian lampau berulang kali. Dan apa hasilnya?

Sering kali hasilnya adalah mencegah kita melihat kehidupan ini seperti apa adanya dan membuat kita tak melihat apa yang ditawarkan kehidupan kepada kita. 

Kemudian Desi Anwar bercerita tentang keponakannya yang memiliki formula ajaib (bagian ini diedit sedikit biar lebih singkat), yaitu: “merayakan setiap hari dan menikmati setiap detiknya.” Keponakannya bukan orang yang suka merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan, seperti apa makna hidup, siapakah kita, dan hendak ke manakah kita dalam hidup ini. Bagi keponakannya, pertanyaan-pertanyaan itu sama saja seperti menikmati hutan dengan cara mengamati pohon-pohonnya, sementara dia lebih suka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di hutan ketimbang memeriksa kulit kayu satu demi satu di tiap pohon. 

Bukannya dia tidak mau mempertimbangkan atau merenungkan berbagai hal, tetapi bakatnya adalah kemampuan untuk memfokuskan pikiran pada hal-hal yang harus dilakukan serta cara melakukannya, dengan demikian dia bisa mengarahkan pikiranna secara jelas ke suatu tujuan, dan bukannya membiarkan proses berpikir itu menyimpang ke mana-mana yang pada akhirnya akan membuatnya tersesat dan waktunya terbuang percuma. 

Tidak pula ia menjalani hidup secara buta dengan kepolosan atau sikap optimistisnya. Sebaliknya, sikapnya adalah menjalani hidup sepenuhnya dari detik ke detik, tanpa mencemaskan masa depan, menyesali masa lalu, dan terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan metafisika yang jawaban pastinya tak akan pernah ia dapatkan. 

Dengan merayakan hidup setiap hari dan merebut berbagai peluang yang menghampirinya, dia merasa telah menjalani hidup dengan cara yang memang sudah pas untuknya. Dia tidak ingin terlalu banyak menganalisis tentang hidup dan bagaimana seharusnya hidup itu dijalani.
 
Akhir kata, buku ini sangat saya rekomendasikan karena tutur bahasanya ringan, sederhana, tapi maknanya mendalam. Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa dipetik dari buku ini dan menurut saya cocok sebagai inspirasi bagi yang selama ini hidupnya "nowhere" (karena suka kepikir yang lalu-lalu atau justru kepikir masa depan) berubah menjadi "here-now". 
 

Tuesday, February 21, 2017

Olahraga



Olahraga
Suatu hari di bulan Desember 2016, saya melihat artikel brightside yang dibagikan teman saya di Facebook tentang olahraga 4 menit yang katanya setara dengan nge-gym 1 jam (judul artikelnya A 4-Minute workout that’s worth an hour at the gym). Olahraganya simpel banget: 60 detik squats, 30 detik push-ups, 30 detik mountain climbers, 60 detik lunges, dan 45 detik jumping jacks. Semua bisa dilakukan di kamar :D Hehehe.
Sejak saat itulah saya berolahraga rutin. Kalau ngga sempat di pagi hari, biasanya saya olahraga sebelum tidur. Tapi ya itu…Cuma 4 menit. Begitu saya cerita ke ibu, ibu saya bilang: Mana ada olahraga cuma 4 menit. Hahahaha. Bener juga si emak. Tapi waktu itu saya ngga kepikiran untuk nambah waktu olahraga.
Kemudian sekitar 1 bulan yang lalu, ketika lagi ngomongin soal olahraga, Pradina bilang dia lebih seneng olahraga sejenis aerobik gitu, lalu dia kirim video Tabata Workout ke saya.


Saya pun tertarik untuk mencoba. Saya siapin diri dulu tuh untuk ngga makan/minum biar ngga muntah pas olahraga. Tabata sendiri diciptakan oleh Izumi Tabata. Yang saya tempe (bosen sama tahu), tabata adalah sejenis high intensity interval training dengan interval 20 detik exercise cukup keras (all-out-effort) dan 10 detik istirahat yang (katanya) cepat dalam membakar kalori. Pada percobaan pertama, saya ngos-ngosan, bibir saya pucat, dan rasanya ngga kuat. Akhirnya saya berhenti di tengah selama beberapa menit untuk istirahat dan minum. Setelah jantung rasanya enakan, saya lanjut olahraga. Oiya, ternyata kalo minumnya ngga lebay, nggapapa kok dibawa olahraga.
Setelah 3 hari rutin olahraga itu, saya mulai terbiasa. Pun ngos-ngosan, saya masih bisa lanjut ngikutin videonya sampai selesai dengan jeda istirahat sesuai dengan yang ada di video.
Untuk variasi, saya juga liat-liat video Tabata lainnya. Dan ini adalah salah satu yang saya juga karena musiknya bikin semangat dan gerakannya do-able.


Sebagai tambahan, saya juga rutin melakukan “5-Minute Plank Exercise”. Kata teman saya yang guru olahraga, untuk mengecilkan perut (menjaga bentuk perut) olahraga yang lebih disarankan adalah plank. Kenapa? Karena risiko cederanya lebih rendah daripada sit-up. Jadi akhirnya saya coba juga deh si plank exercise ini. 

Sumber: http://images.huffingtonpost.com/2014-01-23-fiveminuteplankworkout.jpg


Alhamdulillah, setelah rutin olahraga, saya mulai merasakan manfaat olahraga. Yang pertama, saya jadi ngga gampang sakit. Biasanya dulu kalau pulang malam, keesokan harinya saya bakal langsung flu/bersin-bersin. Sekarang ngga. Kedua, dulu kalau menstruasi, saya biasanya akan merasakan nyeri haid. Nyerinya ngga sampai bikin ngga bisa ngapa-ngapain sih, tapi tetep aja sakit. Sekarang ngga (YEAY!). Ketiga, metabolisme rasanya jadi lebih baik. Berat badan saya naik ke berat badan ideal. Mudah-mudahan ini pertanda penyerapan nutrisi di badan saya jadi makin bagus :D Aamiin. Keempat, saya jadi merasa lebih sehat aja dan ini mempengaruhi “perasaan berdaya” saya. Good for my mental health. 

Itulah manfaat-manfaat olahraga yang saya rasakan. Ngga cuma buat fisik aja, tapi buat mental. Naaah, kalo begitu…yuk, tunggu apa lagi. Mari mulai kebiasaan rutin berolahraga! Yoga boleh, Tabata ok, Zumba mari, terserah deh. Yang sesuai dengan minat dan kemampuan (fisik maupun kantong) aja. Hahahaha.