Sunday, July 30, 2017

Buku Kelima dan Keenam: Filosofi Kue Pancong (1) dan Your Sin is not Greater than God's Mercy



I’m back 😊

Setelah mengumpulkan niat, tenaga, dan waktu akhirnya sempat nulis juga. Hehehe. Sebenarnya lagi ngga sibuk-sibuk amat, tapi memang melawan malas itu luar biasa. Mempertahankan konsistensi pun berat rasanya. 

Bulan Mei dan Juni kemarin saya berhasil menamatkan 2 buku, yaitu buku: Filosofi Kue Pancong 1 karangan Diany Pranata dan Your Sin is not Greater than God’s Mercy yang merupakan buku kumpulan ceramah Nouman Ali Khan. 

Filosofi Kue Pancong

Kalo yang Filosofi Kue Pancong sebenarnya ada 2 jilid. Tapi waktu itu beli 1 dulu, buat ‘cek ombak’ karena buat saya beli buku itu cocok-cocokan. Ada yang saya suka gaya menulisnya, ada juga yang saya ngga terlalu suka. Awalnya saya tertarik beli karena gambar covernya imut dan ada tulisan “Tentang Keluarga”. Kenapa bukunya dinamai “Filosofi Kue Pancong”? Ternyata karena menurut penulis, kue pancong adalah kue yang sederhana dan dapat dibagi-bagi. Layaknya buku yang ia tulis. Bukunya berisi tentang ide sederhana untuk mempertahankan keluarga yang ingin dibagikan oleh penulis untuk pembaca. 

Setengah buku berisi cerita penulis mengenai lika-liku keluarga dan nilai-nilai mulia dalam keluarga, kemudian setengah lagi adalah tulisan terdahulu penulis selaku editor majalah Bella Donna. Terus terang, saya ngga tau Bella Donna itu majalah apa. Tapi setelah baca, saya baru kebayang isi majalahnya seperti apa. Hehehe. Bagi saya, setengah tulisan di depan terasa lebih menyenangkan untuk dibaca karena alur ceritanya lebih smooth dan ‘ngena’. Setengah tulisan di belakang juga cukup menarik, meski ketika baca saya merasa ceritanya agak menggantung karena saya ngga baca majalahnya. 

Overall, bukunya tetap menarik. Di buku Filosofi Kue Pancong 1 ini Mba Diany bercerita mengenai nilai-nilai yang ia pegang terkait pernikahan/ keluarga. Tentang kekuatan niat dan komitmen; betapa pentingnya kesabaran, pengertian, pengampunan; tentang berdoa; serta tentang pentingnya memberi atau membagi waktu untuk keluarga, bukan menyisakan waktu. Lalu ada satu bagian yang saya setujui banget, yaitu bagian ini: masa depan negara dimulai dari keluarga. Rasa-rasanya, memang keluarga adalah pihak yang meletakkan pondasi awal seorang individu. Mereka punya peran penting dalam membangun dan mengembangkan diri kita. Keluarga adalah pihak yang membawa pengaruh nilai-nilai tertentu dalam diri kita yang berdampak pada cara pandang kita terhadap sesuatu (apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang kita setujui dan tidak setujui), cara kita berhadapan dengan masalah, cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan sebagainya. 

Tapi ya, tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada keluarga yang terus-terusan ‘bright’. Jadi, mengutip Mba Diany:


 “But remember when purple comes, or even black, you just have to accept it is part of living, part of the colourful world! And those colours make life so interesting – that you have to appreciate it.” (Diany Pranata, 2017)


Your Sin is not Greater than God's Mercy

Sebenarnya saya lebih dulu beli dan mulai baca buku Your Sin is not Greater than God’s Mercy, tapi selesainya lebih lama daripada buku Filosofi Kue Pancong. Isi bukunya adalah transkrip ceramah yang diterjemahkan. Bagi saya, saya butuh waktu lebih banyak untuk memahami terjemahan tersebut. Itu yang bikin lama. Hehehe.

Topik-topik ceramah yang ada di dalam buku ini antara lain: Meneladani Lebah, Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah SWT, Hukuman atau Ujian, Menemukan Keadamaian Hati, Keluarga yang Menyenangkan Mata, Dosamu Tidak Lebih Besar daripada Kasih Sayang Allah (ini terjemahan judul bukunya ya :D), dll. 

Saya beberapa kali menonton ceramah Nouman Ali Khan di youtube dan suka dengan penjelasannya yang ‘mengingatkan dengan damai’. Begitu pula ketika baca buku ini. Rasanya damai. Dalam setiap topik, ada ayat yang dikutip dan dijelaskan maknanya. Tidak hanya makna harfiah aja, tetapi makna yang mendalam. Misalnya, makna dari panggilan spesial Allah pada kita dalam suatu ayat.

Beberapa hal yang masih saya ingat dari buku ini adalah:
1. Perlunya menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan-Nya. Kenapa perlu? Karena ketika kita melanggar batas, yang kita sakiti adalah diri sendiri. Coba-coba refleksi diri...rasanya udah sering melanggar batas :’D Haha. Tapi Allah bilang gini:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
"Allah akan mengampuni dosa-dosa sebelumnya, semua dosa, sekaligus. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah – dalam ayat ini – tidak berputus asa." (Nouman Ali Khan)


Ingat ya, jangan berputus asa terhadap Allah seeeeebesar apapun dosa yang kita lakukan.

2. Pentingnya orangtua bersahabat dengan anak.

“Anda tidak boleh menjadi penyebab keluarga Anda merasa takut terhadap Anda. Seharusnya Anda menjadi penyebab keluarga Anda merasakan bahagia. Seharusnya anak-anak berlari menyongsong Anda dan memeluk Anda setiap Anda pulang. Itulah hubungan yang seharusnya Anda miliki dengan anak-anak Anda.” (Nouman Ali Khan)

Anw, hal tersebut berlaku sebaliknya juga buat anak ke orangtua.

Yah segitu dulu tulisan saya tentang 2 buku yang sudah saya baca. 

Monday, June 5, 2017

Buku Keempat: Happy Little Soul

(Late Post)

Mulai tahun ini, saya punya target membaca satu buku/bulan. Oleh karena itu, tiap bulan saya beli satu buku yang memang sedang ingin saya baca. Kenapa? Terinspirasi dari bukunya Desi Anwar (Hidup Sederhana), saya ingin belajar fokus ke sini-kini. Saya ngga beli buku banyak-banyak untuk dibaca nanti. Saya pikir, kalau mau bacanya nanti, buat apa dibeli sekarang 😃
 
Bulan April lalu adalah bulan yang sangat sibuk bagi saya. Alhamdulillah. Meskipun capek karena banyak kerjaan yang numpuk dan harus mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaan-pekerjaan baru, bulan April akhirnya bisa terlewati 😊 Oleh karena sibuk, akhirnya saya jarang sekali bisa membaca buku. Jadi aja bulan April ngga bisa menyelesaikan satu buku pun. Hehehe. 

Tapi bulan Mei lalu rasanya sudah cukup lowong dan sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru. Jadi saya bisa baca buku lagi. Buku pilihan saya di bulan Mei adalah Happy Little Soul karangan Ibuk @retnohening. Saya sudah menunggu sekali buku ini karena saya fans berat Kirana. Hehehe. Ketika saya datang ke Islamic Book Fair bareng Mira, buku ini dijual dengan diskon 20%. Tanpa pikir panjang langsung beli deh. Lumayan, dari Rp 80.000 jadi Rp 68.000. 

Buku ini bahasanya sederhana sekali. Isinya cerita tentang kehidupan sehari-hari ibuk dalam merawat Kirana. Ada cerita tentang pengalaman ibuk sebelum punya Kirana, permainan apa saja yang dimainkan ibuk dengan Kirana ketika usia 0 – 3 tahun, suka duka merawat Kirana, tips-tips sederhana dalam mengajarkan sesuatu pada anak, hingga tips-tips menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang kerjaannya ngga kalah banyak dengan ayah-ayah. 

Selama membaca, rasanya saya banyak tersenyum dan juga mengingat kenangan saya bersama ibu saya sendiri. Saya jadi teringat ketika dulu saya susah makan, pernah ngasih makan jelly ke ibu padahal ibu sedang puasa, main salon-salonan sampai rambut ibu nyangkut-nyangkut disisir (tapi dia ngga marah sama sekali :’) ), inget ketika dimarahin ibu karena saya menyontek pekerjaan teman di sekolah, dikipas-kipas ibu ketika mau tidur, daaaan lain-lain. Hal itu membuat saya merasa “happy” dan bersyukur karena punya ibu sebaik ibu saya. Huhu. 

Overall, menurut saya buku Happy Little Soul tidak hanya berguna untuk ibu-ibu, tapi juga buat ayah-ayah, calon ibu-ayah, serta kakak-kakak/adik-adik yang berminat pada Pendidikan Anak Usia Dini. Salut buat ibuk @retnohening. Bukunya menginspirasi sekali!

Buku Ketiga: Time Keeper



(Late Post)

Alhamdulillah, bulan Maret lalu berhasil lagi selesai membaca satu buku 😊
Buku yang saya baca adalah Time Keeper karangan Mitch Albom (salah satu penulis favorit saya). Buku Time Keeper ini bercerita tentang Father Time (Dor). Father Time adalah orang yang menemukan “waktu” dan dihukum karena berusaha untuk mengukur anugerah Tuhan tersebut. Ia diasingkan ke dalam sebuah gua dalam waktu yang saaaangat lama dan di dalam gua itu ia mendengar suara orang-orang yang meminta tambahan hari, tahun, dsb. Suatu hari, akhirnya, Father Time dibebaskan. Ia diberi sebuah jam pasir dan mendapat kesempatan untuk menebus kesalahannya dengan mengajarkan 2 manusia mengenai makna waktu yang sesungguhnya. Father Time kembali ke dunia, yang saat ini didominasi oleh upaya untuk mengukur waktu, dan melakukan perjalanan dengan 2 orang tersebut. Yang satu adalah remaja perempuan yang ingin mengkahiri hidup (Sarah) dan yang satu lagi adalah seorang pebisnis yang ingin hidup selamanya (Victor). Untuk menyelamatkan dirinya, ia harus bisa menyelamatkan Sarah dan Victor.

Di dalam bukunya, banyak quotes yang menarik antara lain:

“There is a reason God limits our days.”
“Why?”
“To make each one precious.”

“As children grow they gravitate to their fates.”

“We all yearn for what we have lost. But sometimes we forget what we have.”

“Sometimes, when you are not getting the love you want, giving makes you think you will.”

“Man invents nothing God did not create first.”

But the complexity of their worlds was baffling. Dor came from a time before the written word, a time when if you wished to speak with someone, you walked to see them. This time was different. The tools of this era –phone, computers– enabled people to move at a blurring pace. Yet despite all they accomplished, they were never at peace. They constantly checked their devices to see what time it was-the very thing Dor had tried to determine once with a stick, a stone, and a shadow.

“Why did you measure the days and nights?”
“To know.”
Sitting high above the city, Father Time realized that knowing something and understanding it were not the same thing.

“When hope is gone, time is punishment.”

“Magic came from the gods. And when the gods touched something, the normal became the supernatural, the simple became the wondrous.”

“Once we began to chime the hour, we lost the ability to be satisfied. There was always a quest for more minutes, more hours, faster progress to accomplish more in each day. The simple joy of living between sunrises was gone. Everything man does today to be efficient, to fill the hour? It doesn’t satisfy. It only makes him hungry to do more. Man wants to own his existence. But no one owns time. When you are measuring life, you are not living it.”

Di buku ini Mitch Albom bergantian menuliskan cerita Dor, Sarah, dan Victor. Masing-masing cerita pun menarik. Isinya tentang cerita mereka sehari-hari, tapi entah kenapa si Mitch (sok akrab) bisa mengaitkan cerita tersebut dengan hal-hal yang bermakna. Seperti yang tertuang di quotes yang saya tulis. Jadi saya seneng aja bacanya :D Hehehe.

Okelah, sekian dulu.

Tuesday, April 25, 2017

Satu Paket



Kakak gw berpesan sama gw “jangan menikah dengan orang yang kamu kagumi, karena nanti akan banyak kecewanya.”


Begitu obrolan sore hari saya dengan teman saya yang (sebut saja) bernama Ulik.
Pernyataan tersebut seketika membuat hati saya mencelos. Wah, saya setuju. Karena yang namanya manusia itu ngga ada yang sempurna. Ngga ada yang 100% baik. Ngga ada yang 100% bisa memenuhi kemauan kita. Intinya mah, pasti ada flaws nya.

Malamnya saya liat postingan Instagram junior saya (@neysanadia).

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.
Or if I believe other than you, at least pause before you correct my view,
Or if my emotion is less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.
Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.
You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.
(An excerpt of “Please Understand Me” by David Keirsey)


Dari situ saya mikir, memang betul ya. Dalam hubungan antar-manusia, maklum dan sabar adalah kompetensi yang perlu kita miliki karena manusia itu hadir dalam bentuk paket yang seringkali (selalu?) ngga sempurna.

Isi paketnya kurang lebih begini:
Satu paket manusia dengan kelebihan maupun kekurangan,
Sehat dan sakitnya,
Nyenenginnya dan nyebelinnya,
Orang itu sendiri dan keluarganya (jika masih ada),
Rasa senang, sedih, marah, kecewa, takut, dan egoisnya,
Kesukaan dan ketidaksukaannya,
Baik dan buruknya,
Masa lalunya dan masa kini-nya,
Kerja keras dan lelahnya,
Semangatnya dan tidak semangatnya,
Kelembutan dan kekerasannya,
Harapan dan kekecewaannya,
Sabarnya dan marahnya,
Rajinnya dan malasnya,
dan lain-lain.

Memang, menghadapi, mengerti, dan menerima manusia itu perlu “ruang karet” yang cukup fleksibel supaya kita sendiri ngga merasa sesak dan orang bersama kita pun ngga merasa sesak. Ruang karet itu adalah sabar dan maklum. Dan… saya pikir ruang sabar dan maklum itu bisa diperluas dengan komunikasi asertif 😊

Selamat pagi!