Monday, January 9, 2017

Pertanyaan Keramahan yang Tidak Ramah


Sepupu sebaya saya menikah pada tanggal 7 Januari lalu. Mengingat yang nikah adalah sepupu sebaya saya-yang usianya sedikit lebih muda dari saya, beberapa hari sebelum hari pernikahan dia, saya sudah membayangkan beberapa jenis pertanyaan yang akan ditanyakan ke saya, antara lain:

“Ayo, kapan nikah?”
“Udah ada calon belum?”
“Kapan nih mau ngenalin calonnya?” , dll.

Kemudian saya juga mereka-reka, bagaimana saya akan menjawab pertanyaan tersebut. Misalnya:
“Hmm, nunggu calon yang cocok.”
“Udah ada, tapi belum ketemu kali.”
Atau “Doain aja…”

Saya membayangkan diri saya tersenyum ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, sesungguhnya di dalam hati saya, rasanya getirrrr. Pait banget. Saya tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa ngga enak di dalam hati (atau pikiran saya?) meski saya mencoba tersenyum. Gini ya, pertanyaan tipikal tersebut sungguh tidak saya ketahui jawabannya. Jodoh, rezeki, maut cuma Allah yang tau. Yeah…meski manusia juga punya andil dalam “mengusahakan”. 

Kecemasan akan pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya curcol pada teman saya. Dia bilang, “Anggap saja itu pertanyaan keramahan. Toh jawabannya juga kita ngga tahu. Cuma Allah yang tahu jawabannya.”

Saya merasa lega-an.

*

Sehari sebelum hari-H, saya berkunjung ke rumah sepupu saya tersebut. Ceritanya, saya diminta tolong mendampingi sepupu saya (alias jadi LO) yang lagi sibuk ngurusin nikahannya besok. Berhubung sebagian besar capeng (calon pengantin) kerjakan sendiri, saya terbayang bagaimana riweuh nya sepupu saya. Bahkan ketika saya datang, masih ada sekitar 200 souvenir yang belum dibungkus. Hihihi. Langsung deh kerja bakti.

Momen kumpul dengan keluarga ini sesungguhnya sangat saya sukai. Kenapa? Karena pada dasarnya keluarga besar saya menyenangkan. Seneng deh kalo bercanda dan jalan-jalan sama mereka. TAPI, pada momen itu segalanya berubah karena negeri api menyerang. Eaaa. Hahaha. Menyerang saya dengan pertanyaan dan pernyataan tipikal tersebut. Awalnya saya berniat menghitung dan mencatat pertanyaan dan pernyataan tersebut, tapi ngga jadi karena kebanyakan dan rasanya kurang kerjaan banget ngitungin gituan. Hahahahaha.

“Iya, tolong dampingi dia ya… Mudah-mudahan dengan ngedampingin, Kak Utet cepet nyusul!”
Ok, masih ketawa. 

“Kak Utet kapan? Habis lebaran ya?”
Haha *mulai nyengir getir karena ngga tau mau jawab apa*

“Yah, Kak Utet kesusul deh…”
Ya Tuhan… Nikah bukan lomba lari!!! Saya tau betul nikah bukan lomba lari, tapi perasaan saya tetep ngga enak dibilang kesusul.

“Sok atuh Kak Utet, mulai serius mencari.”
Nah, yang ini saya suka. Karena bener. 

“Kakak LO, sabar yah…”
Saya diam. Berusaha mencerna maksudnya apa. Kemudian saya marah campur sedih. Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang bikin saya baper dan mikir kemana-mana. Pernyataan tersebut membuat saya mikir “Hah?! Apa gw se-pathetic itu cuma jadi LO? Disuruh sabar karena sampe sekarang belum nikah-nikah?” Sampai saya mikir jahat “Mudah-mudahan situ dapet ujian kesabaran yang lebiiiih dari saya.” Setelah mikir jahat, baju saya ketumpahan minuman. Astaghfirullah. Hahahaha. Saya merasa saya diingatkan Allah untuk ngga mikir jahat-jahat. 

Di akhir acara, ketika pamitan, tante saya bilang gini…
“Nah, sekarang mah giliran aku doain Kak Utet yah biar beneran nikah tahun ini.”
Saya bilang “Sungguh ya didoain?”
Dijawab “Iya…”
Hati ini jadi adem-an...

*

Sepanjang malam setelah acara nikahan tersebut hingga tulisan ini saya buat, perasaan dan pikiran saya masih ngga enak. Timbul pertanyaan-pertanyaan:

Kenapa harus menikah cepat-cepat?
Apakah menikah cepat menambah nilai saya di mata orang-orang?
Kenapa kesannya “nilai” saya turun ketika saya belum menikah di usia 27 ini?
Masih ada yang mikir nikah itu susul-susulan?
Yang nanya-nanya sebenernya betul-betul care ngga dengan kondisi saya?
Kenapa ngga coba ajak saya bicara secara pribadi tentang topik ini?
Ngga tau kan kenapa sampai saat ini saya belum menikah?

*

Setiap orang punya alasan tersendiri terkait pilihan-pilihan yang ia ambil.
Setiap orang punya waktunya sendiri untuk segala hal dalam hidupnya.

*

Saya, perempuan 27 tahun, belum menikah, bukan karena saya tidak mau menikah. Saya punya cerita sendiri tentang kenapa hingga saat ini saya belum menikah dan tidak ingin saya ceritakan di blog.
Gini…Sejak awal saya sudah mewanti-wanti diri saya untuk tidak baper, tapi ternyata susah. Saya coba rasionalisasi dengan cara nginget nginget teorinya Erik Erikson “Individu usia dewasa muda (sekitar 20 – 40 tahun) memiliki krisis “Intimacy vs Isolation”. Jadi, memang di usia tersebut seorang individu mulai berpikir soal hubungan romantis dan pengembangan karier. Saya pikir, wajar saja saya sekarang mengalami krisis yang dimaksud dalam teori tersebut” pun tetap saja susah. Ditambah lagi perasaan kesepian yang mulai sering bertamu.

Intinya, pertanyaan atau pernyataan keramahan tersebut sebenarnya tidak ramah buat saya. Buat pikiran saya. Buat harga diri saya. Jadi alangkah baiknya, pertanyaan atau pernyataan keramahan tersebut dipikir dan disampaikan sedemikian rupa sehingga tidak menyinggung orang yang ditanyakan. Atau kalau itu cuma pertanyaan iseng, mending ngga usah nanya daripada bikin orang sedih.

*

Yaela Marina baper amat. Hahahahaha. Tapi kalo Anda jadi saya, mungkin Anda bisa paham kenapa saya baper untuk urusan satu ini. Salah satu krisis yang masih saya upayakan untuk saya hadapi dan atasi.

*

Nah, buat yang masih baper (nunjuk diri sendiri), inget bahwa masalah itu jadi masalah karena kita pikir itu masalah. Jadi, hayuuu atasi masalah dan/atau ubah cara pikir supaya baper nya ngga mengganggu. Anggap saja pertanyaan itu reminder dari Allah. Anggap aja orang itu perhatian sama kita. Pikir yang positif-positif.
Jangan lupa, yang paling penting adalah… Sabar.

*
 
Tolong maafin saya kalau ada perkataan/perbuatan saya yang sengaja/tidak sengaja menyinggung/menyakiti. Daaaan…
Doakan saya ya! :) (baca dengan intonasi ala-ala Benteng Takeshi)

Saturday, December 3, 2016

Melbourne: Jalan-jalan saat weekend


Weekend adalah waktunya jalan-jalan!

Cerita tentang jalan-jalan ini akan cukup panjang. Mengutip Ibn-Battuta "traveling - It leaves you speechless, then turn you into a stroy-teller". Selamat membaca :)
Beberapa tempat yang saya datangi (dan saya rekomendasikan buat siapapun yang ke Melbourne, Victoria) antara lain: 

1. Queen Victoria Market, DFO, dan Chemist Warehouse
QVM
Disini kita bisa belanja kebutuhan sehari-hari serta oleh-oleh. Queen Victoria Market ini memang pasar, tapi bukan pasar becek. Pasarnya bagus. Ada 2 area, area yang berubin (tempat jualan daging, seafood) dan area yang alasnya tanah (sayur, buah, oleh-oleh). Saya dan teman-teman hampir tiap weekend mampir kesini untuk belanja bahan masakan, buah, dan beli oleh-oleh. Hahaha. Untuk oleh-oleh, carinya disini aja. Lebih murah dibanding tempat lain (meski setelah di-kurs kan harganya dengan IDR, tetap aja mahal. Hehehe). Penjualnya banyak yang orang Indonesia. Saya dan teman-teman pun pilih kasih. Kami belanja di tempat yang penjualnya orang Indonesia. Meski bukan doi bosnya, tapi nyaman aja belanja sama sesama orang Indonesia. Buat emak-emak yang hobi nawar, cari lah yang penjualnya orang Indonesia supaya lebih gampang nawar-nawarnya.
Di QVM ini saya jadi kenal sama beberapa penjualnya seperti Mas Windho, Mas Ghofar, Mas Yoga (yang ini tampan banget orangnya), dan seorang Mas mas yang lagi S3. Saya simpen nomor hp mereka supaya bisa nanya “Hari ini jualan dimana?” Kenapa begitu? Karena memang mereka pindah-pindah lokasi jualan. Yang saya inget adalah Mas Windho kalo hari Sabtu jualan di blok RL23 dan Mas Yoga J75.
Nb: Penjual sayur disini cakep-cakep. Hihi. Orang-orang Iran, Afghanistan gitu. Kalo di Indonesia, mungkin bisa pada jadi model… 
Suasana Queen Victoria Market


DFO
DFO adalah semacam factory outlet yang gede dan tersedia di beberapa tempat. Yang kami kunjungi waktu itu adalah DFO Southwharf. Buat yang hobi belanja, monggo kesini karena banyak banget barang diskonan. Waktu itu saya liat jam tangan Swatch serta Fossil didiskon 50 – 70%. Jam yang harganya jut jut, sekarang tinggal beberapa ratus ribu saja. Tapi, tetep buat saya ngga terlalu menarik. Selain karena ngga banyak tau harga, saya juga ngga hobi belanja (kalo ngga butuh banget, ya ngga beli).
Nah, di deket DFO Southwharf ini ada tempat penyewaan helikopter. Karena deket tempat sewa heli, saya jadi bisa liat *bukan naik * (untuk pertama kalinya dalam hidup saya) helikopter saat mau terbang dari dekat. Saking noraknya, saya videoin.
Liat helikopter, Bu Ratu langsung foto ala ala model x)
Chemist Warehouse
Chemist warehouse banyak banget. Yang paling deket dengan apartemen kami ada di Bourke Street.  Kalo dari apartemen, tinggal jalan kaki sekitar 10 - 15 menit. Banyak parfum (original) dan obat-obatan (original juga) yang harganya sangat murah. Lagi-lagi, karena saya ngga tahan pakai parfum dan ngga terbiasa mengonsumsi vitamin dari luar negeri, saya ngga beli apa-apa di chemist ini.

2. Carlton's Garden dan Royal Exhibition Building
Carlton's Garden dan REB ini lokasinya deket banget, tinggal jalan kaki sekitar 5 menit dari apartemen. Gratis tanpa tiket. Taman ini enak buat nongkrong sore, ngelamun, dan relaksasi. Ada pohon, hamparan rumput, dan ada juga kolam yang banyak bebeknya. Hehehe.
Royal Exhibition Building

A glimpse of Carlton's Garden

3. Victoria State Library
Dari apartemen ke sini juga deket. Tinggal jalan kaki sekitar 10 menit. Buat yang suka baca buku, monggo main kemari. Gedungnya artistik. Cobain naik ke lantai paling atas untuk bisa ngeliat pattern ruang bacanya. Buat yang suka nonton Running Man, perpus ini juga pernah dipakai sebagai tempat syuting. Menyenangkan banget bisa ngeliat apa yang di TV terpampang nyata di depan mata. Kita bisa masuk kesitu tanpa ngelepas tas dan gratis!

Victoria State Library

Atap Victoria State Library

4. Sciencework
Ini adalah semacam PP Ipteknya Melbourne. Mudah dijangkau pakai kereta dari Flinders Street Railway Station. Tinggal cari kereta ke arah Werribee lalu turun di Spotswood. Setelah itu tinggal jalan kaki sekitar 10 menit ke Sciencework. Areanya luas. Buat yang suka science, harus banget kemari. Saya sama dr. Ari nyobain ke planetariumnya dengan show night sky. Di awal show saya sempet nangis (diem-diem) saking indahnya narasi dan shownya. Setelah itu, kami juga nyoba ke lightning roomnya. Disitu kami bisa liat gimana listrik dihasilkan, dll. Shownya interaktif, jadi ada beberapa anak yang dipanggil ke panggung untuk jadi relawan demonstrasi. Masing-masing show lamanya sekitar setengah jam. Selain show tersebut, banyak juga display alat peraga yang canggih. Buat saya, yang menarik adalah alat peraga artificial intelligence dan music roomnya. Di music room, kita bisa bikin lagu yang bisa memicu mood tertentu. Interrressssting!
Oiya, harga tiket masuknya 14 AUD. Plus nyobain paket show planetarium dan lightning room jadi nambah 10 AUD. Total 24 AUD.


Jam matahari


5. Etihad Stadium
Ini cuma lihat dari luar aja. Sambil ngebayangin Coldplay yang mau konser disitu tanggal 9 – 10 Desember nanti. Hikssss.

Etihad Stadium

6. Melbourne Star
Ini semacam bianglala besar. Niatnya hanya mau lihat dari luar karena harga tiket masuknya mahal. Awalnya mau dateng ke sini malem-malem supaya bisa liat bintangnya nyala warna warni, tapi ngga sempet :( Tapi gapapalah, yang penting bisa liat dari luar. Hehehe. *menghibur diri

Melbourne Star

7. Brighton Beach
Ini adalah pantai pertama yang saya datangi. Biasanya di pantai itu rasanya panas ya. Disini beda banget. Hahahaha. Rasanya justru super dingiiin, karena suhunya memang lagi dingin dan anginnya kenceng banget. Kaga ada orang yang berenang, paling ada pasangan yang celup-celup kaki dan foto prewed. Hehehe.
Waktu itu saya dari Sciencework langsung ke Brighton Beach ini. Dari Spotswood, balik dulu ke Flinders lalu dari Flinders naik kereta yang ke arah Sandringham. Turun di Brighton Beach Station. Namuuun, ternyata kalo mau ngeliat rumah-rumah lucu di Brighton Beach, baiknya turun di stasiun Middle Brighton. Kalo turunnya di Brighton Beach Station, anda perlu jalan sekitar 4km untuk liat rumah-rumah lucu itu :D HAHAHAHA.
Hari itu, saya sama dr. Ari salah turun. Saya sempat bingung karena kok yang ada cuma pantai aja. Ngga ada rumah-rumah lucu itu. Akhirnya saya coba menyusuri pantai dan keliatan tu deretan rumahnya. Awalnya dr. Ari ngga percaya itu rumah-rumah, tapi saya keukeuh itu rumah-rumah dan disitu ada teman kami. Saya bilang kalo doi ngga mau ikut, doi tunggu aja, nanti saya balik. Hahahaha. Egois banget yak. Tapi gimana dong. Udah niat banget pengen liat rumah-rumah lucu itu. Ujung-ujungnya dr. Ari ngalah dan mau jalan. Kemudian besoknya dr. Ari sakit. Maap ya dok...

Deretan rumah warna warni di Brighton Beach

Boxing with the boxing kangaroo x)

8. St. Kilda Beach
Ini adalah salah satu pantai yang menurut saya masuk list “must visit”. Di pantai ini kita bisa ketemu pinguin dan rakali (semacam tikus air; biar kata doi sejenis tikus, ukurannya segede kucing dan buntutnya pun panjang. Hahaha) J Waktu yang direkomendasikan untuk mengunjungi St. Kilda Beach adalah menjelang matahari terbenam. Waktu saya di Melbourne, matahari tenggelamnya sekitar jam 20.00. Hahaha. Saya, Teh Novel, dan dr. Ari sampai disitu sekitar jam 19.00. Jam segitu, orang-orang udah rame. Nungguin pinguin. Sebelum matahari tenggelam, kita bisa liat 1-3 pinguin di antara bebatuan. Tapi pemandangannya akan lebih amazing lagi ketika matahari terbenam, soalnya pinguinnya pada muncul :D mereka berenang dari arah laut ke arah kita. Berhubung mata pinguinnya sensitif, penggunaan blitz dilarang. Tapi tenang saja, kita tetep bisa liat pinguinnya karena ada petugas-petugas yang bawa senter infra merah. Mereka bantu kita nyenter pinguin-pinguin itu. Pinguinnya pun tampak ngga terlalu takut sama manusia. Kita bisa berjarak sekitar beberapa cm aja dengan mereka, tapi tetep ngga boleh dipegang.
Untuk gambar pinguin, saya dapet nih. Tapi kalo rakali, ngga dapet soalnya doi berenang cepet banget.

Menjelang sunset di St. Kilda Beach

Baaa :D Ini dia pinguinnya!
9. Luna Park Yang ini pun saya ngga masuk. Cuma liat dari luar. Ke sini pun ngga sengaja. Jadi pas naik trem, harusnya saya pencet tombol menjelang halte St. Kilda, tapi saya ngga pencet (norakwati :’D) Alhasil jadi harus turun di halte terakhir yang ternyata malah deket banget sama Luna Park. Foto aja daaaah. Dari Luna Park, tinggal jalan kaki ke St. Kilda. Deket.

Mejeng di depan Luna Park

10. Area sekitar Parliament Building dan St. Paul’s Cathedral
Gedung parlemen ini artistik banget. Khas Eropa gitu deh bangunannya. Tempat ini sering dipakai untuk foto prewedding. Berhubung saya dan teman-teman (Intan dan Mas Aris) datangnya pas weekend, kami hanya bisa foto-foto di luar. Nggapapa deh.
St. Paul’s Cathedral juga cakep. Karena lagi ada acara nikahan pas kami dateng, lagi-lagi kami tak bisa masuk. Hehe.


St. Paul's Cathedral. Sulit dapet foto fullnya. Jadi aja miring miring ambil fotonya x)

11. National Gallery of Victoria dan ACMI
Cobain masuk ke NGV ini deh. Banyak display lukisan yang menarik untuk dilihat. Meskipun saya bukan penikmat seni lukis, tapi tetep aja refreshing untuk liat warna warni disini. Disini saya ketemu sama orang asal Indonesia yang sudah jadi permanent residence Australia. Beliau bilang saya harus coba ke NGV yang satu lagi karena ada karya seni seniman besar macam piccasso. Lagi-lagi…karena terbatas waktu, saya ngga sempet ke tempat rekomendasi beliau. Ke ACMI pun cuma liat dari luar. Hehe.


Salah satu sudut ruang pameran di NGV

Mejeng di depan salah satu lukisan :)


12. Royal Botanic Gardens, Victoria
Ini adalah salah satu tempat favorit saya. Untuk masuk kesini, kita tidak perlu bayar apapun. Gratis. Tamannya super luas, sampai sampai saya masuk dari pintu mana eh keluar entah dari pintu mana. Taman ini bagus banget, seperti Kebun Raya Bogor tapi versi lebih rapi an lebih jumbo. Berhubung cuacanya adem, jalan-jalan disini menyenangkan banget. Ngga keringetan sama sekali. Kesukaan saya melihat bunga terpuaskan disini. Banyak bunga dan saya menikmati banget. Karena saya jalan sendirian, saya puas-puasin deh ngeliatin bunga, foto bunga-bunga, ngelamun di pinggir danau sambil denger musik. Lovely. Sesekali terlintas pikiran, pengen pacaran di tempat kaya gituuuu :’D







Pertama kali liat dandelion :)


Kupu-kupu dan bunga

Ini foto tanpa filter. Memang bunganya aja yang kuning, batang dan daunnya abu-abu.
Black swan

13. Shrine of Remembrance
Shrine of Remembrance adalah bangunan untuk mengingat para pejuang Australia yang gugur di Perang Dunia. Di luar gedungnya banyak red poppies. Katanya, red poppies adalah bunga yang pertama mekar di daerah dimana banyak pejuang Australia gugur. Lagi-lagi, untuk masuk kesini pun ngga rempong. Kita bisa bawa tas kita dan gratis. Shrine of Remembrance ini nempel sama Royal Botanic Gardens. Jadi dari Shrine ini saya langsung ke Royal Botanic Gardens.





14. Healesville Sanctuary
INI JUGA MUST VISIT. Disini kita bisa liat hewan-hewan khas Australia macem Kangguru, Koala, Platypus, Wombat, Tasmanian Devil, dll. Saya seneng banget ke Healesville. Perjalanannya aja terasa menyenangkan. Waktu itu yang pergi saya, dr. Ari, Mas Aris, dan Bli Nyoman. Keputusan untuk pergi ke Healesville baru diambil pukul 00.00 malam. Kemudian paginya jam 5.45 kami udah harus berangkat dari apartemen karena perjalanan diperikarakan akan makan waktu sekitar 3 jam. Hehehe. Ternyata untuk jalan jauh, kita cuma perlu satu orang yang ngomong “AYO!” kemudian yang lain langsung “YUK!” *teringat whatsapp malem-malem sama dr. Ari dan Bli Nyoman.

Transportasi di Victoria udah bagus. Jadi untuk ke Healesville kami bisa naik angkutan umum. Tinggal naik tram ke Flinders. Dari Flinders naik kereta ke arah Lilydale. Pas sampai di Lilydale, saya, Bli Nyoman, dan Mas Aris nyempetin ke Lilydale Lake dulu. Kata Bli Nyoman, Lilydale lake bersejarah buat pemain pokemon. Saya ngga ngerti sejarahnya gimana, tapi saya ikut aja karena pengen liat danaunya. Danaunya baguuus. Di sekitar danaunya ada jogging track juga, jadi banyak orang yang olga (olahraga) disitu. Kami hanya sebentar saja di Lilydale Lake, karena mau mengejar bus ke Healesville. Inget, busnya datang dan pergi tepat waktu. Jadi jangan main-main deh sama waktu. Dari Lilydale itu kami naik bus nomor 685 ke Healesville Sanctuary. Perjalanan menuju Healesville Sanctuary pun menyenangkan buat saya. Saya bisa liat hamparan rumput plus sapi seperti yang gambar di kemasan susu, serta bisa lihat juga kebun anggur yang luas. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit. Kami turun di halte terakhir yang mana lokasinya persis di depan sanctuary.

Di sini hepi banget (lagi) karena bisa ngeliat langsung hewan-hewan yang saya liat di buku. Huhuhu. Harga tiket masuknya 32 AUD. Ditambah close encounter kangguru dan koala (masing-masing 12 AUD), totalnya jadi 56 AUD. Pilihan close encounter memungkinkan kita untuk melihat, mendekat, atau bahkan menyentuh hewan yang kita pengen. Pilihannya hari itu ada kangguru, koala, wombat, dingo, emu, dan echidna. Kami pilih kangguru dan koala. Dengan memilih close encounter, saya bisa liat kangguru dari dekat kemudian elus-elus kanggurunya. Bulunya haluuus dan kanggurunya udah jinak. Ada juga sih yang boxing kangaroo, tapi rangernya ngingetin kami untuk ngga ngedeketin boxing kangaroo. Nah, kalo close encounter dengan koala, cuma bisa masuk ke kandangnya dan liat-liat aja, ngga boleh pegang/digelendotin koalanya. Di Victoria memang ada kebijakan kita ngga boleh pegang koalanya. Koala ini, namanya Dindy, lagi bobok. Yowislah, kami foto-foto aja sama doi yang lagi bobok. Gemesin banget maaak. Oiya, saya baru tau bahwa koala bisa tidur selama 20 jam/hari. Koala makannya daun eucalyptus, dan katanya daun itu ngga terlalu “bergizi” sehingga koala berupaya menghemat energinya dengan tidur.

Oiya, meski Healesville Sanctuary ini letaknya jauh banget dari kota, biaya kesana murah banget. Saya sama teman-teman terkaget-kaget karena ternyata biaya yang kami keluarkan untuk pulang pergi hanya 6 AUD. Udah naik turun tram-kereta-bus ternyata biayanya hanya segitu. Magic.

Lilydale Lake

Sleeping Koala



with Crystal the kangaroo


15. Melbourne Museum
Ini juga must visit! Museumnya luas banget dan keren. Ada 2 bagian di museum ini, yaitu Science dan History. Begitu dateng, langsung milih ke bagian science. Sayangnya, karena saya baru masuk museum jam 1, ngga keburu deh ke sayap bagian history. Ohya, ada juga bagian forest nya, tapi ngga keburu juga kesitu karena museumnya tutup jam 17.00 (Sebagian besar museum buka jam 10.00 – 17.00. Kalau mau beli tiket, langsung dateng ke museumnya aja).
Di bagian science ini, kita bisa belajar soal bumi serta manusia. Tentang daratan, batuan, lautan, dan juga tentang manusia secara keseluruhan (mulai dari organ hingga tentang mind). Buat saya, yang paling menarik adalah yang mind. Sampe saya bacain satu-satu keterangan displaynya. Haha. Soalnya menarik-menarik banget.
Untuk masuk ke museum ini, kita perlu bayar 12 AUD. Worth it! Ada 1 display yang menurut saya menarik banget, yaitu di bagian hewan. Kita tinggal ngarahin kamera (yang tersedia) ke display hewannya, tap, lalu nanti akan muncul keterangan mengenai hewan tersebut. Ampun mak, menarik banget.


16. Menyusuri Yarra River di malam hari
Ini juga seru :) Jalan aja di pinggir-pinggir sungai sambil menikmati city light. Atau kalo mau lebih enak lagi, bisa juga nongkrong di cafe yang terletak sepanjang sungai itu.





Sebenernya pengen juga ngunjungin Immigration Museum, masuk ke Old Melbourne Gaol (ikut ghost night nya), dan juga nyempetin ke Phillip Island, tapi udah ngga ada waktu lagi. Udah keburu harus pulang. Hehe. Mungkin lain waktu kalo kesana lagi :)

Overall terkait jalan-jalan
Secara keseluruhan, saya puas jalan-jalan di Melbourne karena sebagian besar tempat tujuan saya bisa saya kunjungi J Hal yang menjadi highlight buat saya adalah:
1.       Transportasi umumnya bagus banget. Jadwal tram, bus, dan kereta tersedia dan selalu dateng tepat waktu. Buat pengguna transportasi umum hal itu sangat membantu karena kita jadi bisa memperkirakan waktu berangkat – pulang. Oiya, mereka bikin penilaian juga lho terkait ketersediaan dan ketepatan waktu transportasi umum. Untuk kriteria ketersediaan serta ketepatan waktu, nilainya mencapai 90% lho. *tepuk tangan* 
2.       Akses untuk orang dengan disabilitas juga bagus. Tram, kereta, maupun busnya bisa diakses orang dengan disabilitas. Pengguna kursi roda, maupun ibu-ibu yang bawa kereta bayi ngga susah kalo mau memanfaatkan fasilitas macem transportasi, toilet, restoran, dan pasar. Bahkan bisa juga lho jalan menyusuri pantai (karena memang disediakan track khusus). Keren pisaaaan! 
3.       Biaya transportasi murah. Untuk naik tram, kita cuma perlu nge-tap 1 kali. Sekali tap kita mengeluarkan 4 AUD, tapi itu berlaku untuk 24 jam. Terserah kita mau naik turun keliling-keliling kemana-mana. Asik bingitz. 
4.       Ada free city circle tram dan free tram zone. City circle tram nomor 35 bisa membawa kita keliling-keliling. Tinggal hop on hop off sesuka kita aja. Terus, kita juga bisa naik tram tanpa bayar. Selama kita turun naik di free tram zone (bisa diliat di peta dan di halte tramnya), kita ngga akan kena biaya sepeserpun. 
5.       Tambahan: Naik taksi itu ongkosnya mahal. Sekali buka pintu aja 5 AUD (kalau di rupiahkan sekitar 50 ribu). Ada juga Maxi Taxi yang bisa memuat hingga 11 orang. Jadi kalo ramean, mending pesen taksi yang gede. Terus pesen taksinya bisa melalui resepsionis hotel atau sendiri. Kalo mau pesen sendiri, saya diajarin pesen taksi dari 13cabs.com. 


Hoh, akhirnya selesai juga postingan ini :) Panjang ya. Mostly tentang jalan-jalannya. Hahaha. To me, it’s always interesting to see and find new things.