Tahun 2019 penuh dengan wisuda orang-orang yang saya sayangi. Ade, Abang, Ibu. Bahagia sekali melihat orang yang saya tahu kerja kerasnya...yang saya bersamai... akhirnya sampai ke titik wisuda :)
Beberapa hari yang lalu, saya dapat cerita bahwa sebentar lagi di UI akan ada wisuda semester ganjil. Wow. Happy. Momen wisuda selalu membahagiakan. Senyuman orang dan bunga ada dimana-mana.
Lalu tiba-tiba saya teringat....ada 1 wisuda yang sangat ingin saya hadiri, namun tidak saya hadiri. Not because I can't, but because I wasn't invited. Not even notified.
Sedih lho :')
Mengingat hal itu membuat saya menangis sebentar. Bertanya-tanya kenapa saya tidak diberi kabar (mungkin karena kehadiran saya tidak diharapkan), merasa kehilangan teman, kemudian sempat juga merasa saya itu tidak berarti apa-apa sehingga semudah itu disingkirkan. Merasa bodoh juga karena berharap terlalu dini.
Semua rasa dan pikiran irasional itu tiba-tiba aja datang tanpa diundang. Hahaha. Lalu... saya biarkan rasa itu hadir utuh dan lewat :) Di saat yang sama, saya berulang kali meyakinkan diri bahwa "Pasti ada alasan baik di balik pengalaman itu".
Ngga ada masa lalu yang bisa diubah. Dijalani saja yang ada di sini-kini. Rasional saja. Dan saya berusaha terus meyakini bahwa "Apa-apa yang ditakdirkan untuk melewatkan saya akan lewat, sementara yang ditakdirkan untuk hadir tidak akan melewatkan saya."
Thursday, January 23, 2020
Tuesday, January 14, 2020
Building a wall
She was broken then she decided to build a wall.
Through night and days, she built herself inside that wall. Six (6) years after the day she was broken, she felt like she was strong enough to face whatever it is behind that wall...so she tested herself.
She got out of the wall. And suddenly strucked by something sooo beautiful. She felt the resurgence of a fresh feeling of love, cheerful air around specific person.
Nevertheless, she was told to be careful not to be swayed, but she didn't do as warned.
...
Things end up in her being in pain and she got left behind.
So, she decided to build a better wall. Stronger and taller. She is busy building herself inside, but still not ready to get out of the wall. Too afraid of who might come and what might happen.
...
Regarding the wall,
this time, only the strong one will be able to go through the wall or witty enough to be able to see a little door somewhere around the wall to get inside.
Through night and days, she built herself inside that wall. Six (6) years after the day she was broken, she felt like she was strong enough to face whatever it is behind that wall...so she tested herself.
She got out of the wall. And suddenly strucked by something sooo beautiful. She felt the resurgence of a fresh feeling of love, cheerful air around specific person.
Nevertheless, she was told to be careful not to be swayed, but she didn't do as warned.
...
Things end up in her being in pain and she got left behind.
So, she decided to build a better wall. Stronger and taller. She is busy building herself inside, but still not ready to get out of the wall. Too afraid of who might come and what might happen.
...
Regarding the wall,
this time, only the strong one will be able to go through the wall or witty enough to be able to see a little door somewhere around the wall to get inside.
Tuesday, December 31, 2019
Untuk Anda
Hai Anda!
Terima kasih sudah jadi sebab senyum, tawa, bahagia, dan tentunya tangis di 2019 ini. Terima kasih juga sudah menyadarkan bahwa hati saya terlalu lembut dan terlalu mudah tersentuh. Mungkin tidak seharusnya seperti itu, ya? Hiks.
Saya ngga akan lupa, betapa menyenangkannya berada dekat Anda. Cerita dan tertawa bersama sepanjang jalan pulang. Makan sate padang yang saya mau padahal sebenarnya Anda nggak suka. Melihat pendar lampu Taman Mini malam hari meski sejenak. Menyusuri jalanan UI di pagi hari. Lain kali saya akan pakai baju lebih manis. Sehingga tampilan saya tidak seperti nenek-nenek. Hiks.
Dan terakhir, terima kasih atas selimut dan kartu doanya :) Will keep it forever.
Seandainya semua kebaikan Anda tidak sebatas balas budi, mungkin hari ini kita tidak bahagia sendiri-sendiri.
Terima kasih sudah jadi sebab senyum, tawa, bahagia, dan tentunya tangis di 2019 ini. Terima kasih juga sudah menyadarkan bahwa hati saya terlalu lembut dan terlalu mudah tersentuh. Mungkin tidak seharusnya seperti itu, ya? Hiks.
Saya ngga akan lupa, betapa menyenangkannya berada dekat Anda. Cerita dan tertawa bersama sepanjang jalan pulang. Makan sate padang yang saya mau padahal sebenarnya Anda nggak suka. Melihat pendar lampu Taman Mini malam hari meski sejenak. Menyusuri jalanan UI di pagi hari. Lain kali saya akan pakai baju lebih manis. Sehingga tampilan saya tidak seperti nenek-nenek. Hiks.
Dan terakhir, terima kasih atas selimut dan kartu doanya :) Will keep it forever.
Seandainya semua kebaikan Anda tidak sebatas balas budi, mungkin hari ini kita tidak bahagia sendiri-sendiri.
Tuesday, October 22, 2019
Apa Kabar?
Apa kabar?
Sekali waktu kita perlu tanya
kabar kita pada diri kita sendiri :) Berandai-andai seperti ada yang menanyakan
hal tersebut pada kita.
Pada postingan ini, saya ingin
menuliskan apa yang akan saya katakan jika ada yang bertanya “Apa kabar?”
Belakangan ini, secara umum, saya
baik-baik saja. Saya masih terbangun dalam keadaan sehat dan utuh. Pagi saya terasa
nyaman karena saya masih bisa memeluk ibu sebelum berangkat kerja dan
berpamitan pada ayah. Adik saya juga baik baik saja.
Ada momen momen dimana saya
merasa sedih. Karena timbul rasa ‘kehilangan’. Bukan sekedar kehilangan orang
yang sebelumnya diharapkan, tapi juga kehilangan teman bicara. Teman yang bisa
diajak bicara seeepanjang perjalanan dan se-nyambung itu.
Ada momen momen dimana saya
merasa sedih tapi enggan bercerita karena khawatir akan merepotkan. Khawatir
karena ceritanya “itu itu lagi”. Untuk itu, saya memilih untuk menangis sendiri
di kamar sambil mengusap air mata dengan handuk. Hahahaha. Kemudian saya tutup
dengan wudlu dan sholat. Bermunajat pada yang memiliki hati saya (kita). Minta
diangkat sedihnya dan diganti dengan kebahagiaan.
Menangis di hadapan Allah
belakangan ini menjadi hal yang melegakan meski seringkali tidak langsung mendapat
jawaban. Tapi paling tidak pagi hari keesokannya saya terbangun dalam keadaan ringan.
Bagaimana kalau sedih saat sedang dalam perjalanan? Saya usahakan untuk
berdzikir. Bener-bener dzikir. Dan hal itu membuat saya lebih tenang.
Last but not least,
Saya ingin mengutip kata @drheidigreen
Time doesn’t heal all wounds.
Doing the work does.
Doing trauma work is like being
trapped in a burning, windowless room. Choose to do nothing, you will be
consumed by the flames.
Run through the fire and out the door, you will feel immense pain, but in the end, you heal and get to live on.
Run through the fire and out the door, you will feel immense pain, but in the end, you heal and get to live on.
You have to feel it to heal it :)
Monday, October 14, 2019
Surrounded by Pretty Souls
Alhamdulillah.
Ngga ada kata yang lebih tepat
untuk mengungkapkan syukur saya yang amat sangat karena dikelilingi oleh
orang-orang berjiwa baik.
Orangtua, adik-adik, dan
sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan pada kebaikan. Yang membantu saya melewati berbagai
fase hidup, terutama saat sedang merasa “di bawah”.
Beberapa waktu ini saya sedang
mengalami patahati. Hahahaha. Nah, kalo udah urusan begini, ngga enak deh.
Takes quite a lot of time to heal. Tapi yang saya syukuri adalah hadirnya
sahabat-sahabat saya. Mereka hadir dengan cara mendengarkan dan menghibur. Ada
yang langsung kirim satu paket coklat dkk. Ada juga yang begitu tau saya ada
niat umroh langsung ngirim mukena dan gamis (dan mukena sama gamisnya pas
banget dengan yang saya idamkan). Ada juga yang ketika saya bilang saya merasa
jelek dan pengen ubah penampilan langsung nawarin nemenin beli baju cakep. Ada
juga yang setiap saya datangi kosannya siap sedia mendengarkan dan memberi
sudut pandang objektif. Ada juga yang ngecek-in “gimana perasaan lo hari ini?”.
Huhu.
I’m so happy that I am surrounded
by pretty souls.
Thank you for being around :) Barakallah
pretty souls!
Wednesday, September 25, 2019
Hello Again! InsyaAllah Umroh!
Hai :)
Ya Allah, ngga terasa sudah 1 tahun tidak menulis blog. Mungkin karena belakangan ini saya menulisnya di instagram. Hehehe. Pada postingan ini, saya ingin cerita tentang pengalaman mengurus persiapan umroh.
Bermula dari obrolan saya dengan ibu mengenai ibadah haji. Ayah saya yang sudah tergolong lansia belum pernah ke Tanah Suci sama sekali. Mau diberangkatkan haji, beliau tidak mungkin sendiri dan harus pakai skema Haji Plus supaya tidak menunggu antrian terlampau lama. Tapi kalau tidak sendiri, kami tidak kuat menanggung biaya (maklum, Haji Plus biayanya 100 juta-an/ orang). Jadi, saya dan ibu terpikir bahwa jalan tengahnya adalah umroh. Kalau umroh, insyaAllah udah ada uangnya untuk berangkat berdua.
Bismillah.
Saya langsung mencari travel umroh dengan cara googling dan meminta rekomendasi dari teman/saudara yang sudah pernah umroh. Saat googling, saya cari travel umroh yang kantornya di daerah Jakarta Timur. Ada beberapa yang masuk list pencarian saya, kemudian saya cari nomor PPIU travel-travel tersebut di website https://simpu.kemenag.go.id/.
Alhamdulillah yang ada di list saya semua ada nomor izinnya. Dan...akhirnya saya memilih datang ke kantor salah satu travel umroh di Cawang Otista. Sambutannya ramah dan baik sekali. Tapi kemudian, saya mendapat rekomendasi travel AliaGo dari Om dan sahabat saya. Mereka bilang manajemen saat umrohnya tergolong rapi. Wah, tanpa pikir panjang, langsung saya googling si AliaGo ini. Alhamdulillah juga kantornya AliaGo reachable dari kantor, yaitu di Mall Cipinang Indah. Ga lama, langsung saya datangi tu kantornya. Hehe.
Ternyata sedang ada promo umroh dengan pesawat Flynas di AliaGo. Harga paketnya 22 juta ditambah biaya perlengkapan Rp 990.000 dan visa umroh $80. Jika dijumlahkan, biaya totalnya sekitar 24 juta-an, atau saya bulatkan saja jadi 25 juta. Pas deh dengan budget saya dan ibu.
Kalau sudah yakin mau pilih travel tersebut, kita perlu menyerahkan beberapa berkas dalam bentuk hard dan soft.
Beberapa persyaratan yang harus diserahkan dalam bentuk hardcopy antara lain:
1. Paspor,
2. Buku kuning (bukunya seperti paspor berisi bukti bahwa kita sudah suntik vaksin meningitis),
3. Pas foto 2 lembar.
Sisanya boleh diserahkan dalam bentuk softcopy, yaitu:
1. Fotokopi KTP,
2. Fotokopi KK,
3. Fotokopi Akte Lahir (Ini wajib ada apalagi untuk jemaah perempuan karena perlu berangkat sama mahram). Dalam pengalaman saya, karena saya (insyaAllah) berangkat dengan Ayah, jadi Ayah saya yang jadi mahram saya.
4. Fotokopi Buku Nikah (Jika ada). Kalau saya, belum ada..... (kemudian galau. hahahaha)
Setelah memilih travelnya, saya kemudian mencari lokasi untuk suntik meningitis. Pilihan saya jatuh ke RS Budhi Asih di Jalan Dewi Sartika. Kenapa kesitu? Kebetulan karena ada teman yang posting tentang ketersediaan vaksin tersebut di situ dan karena deket aja sama kantor. Hehe. Proses suntiknya pun mudah.
Saya datang pagi-pagi jam 7. Kemudian mengambil nomor antrian untuk Umum (dibantu satpam). Setelah itu saya mengantri di loket. Biaya administrasi pasien barunya Rp 20.000 dan ini dibayarkan di kasir loket. Dari kasir loket, saya diarahkan untuk ke ruang MCU di Lantai 7. Nah, di Lantai 7 inilah saya baru bayar biaya vaksinnya yaitu Rp 305.000. Saat itu, saya ditawarkan paket promo bundling vaksin meningitis plus influenza seharga Rp 450.000. Tergoda lah saya... Hahaha. Soalnya saya cukup mudah kena flu. Jadi yaudah saya pilih yang paket saja.
Alhamdulillah (lagi) prosesnya cepat. Poli MCU nya tidak terlalu ramai pengunjung. Sehingga jam 8.00 saya sudah selesai vaksin sekaligus mendapatkan buku kuning. Yeay! Happy!
Gitu deh... Alhamdulillah. Mungkin ini ya yang namanya jodoh. Wakakak. Segala sesuatu jadi mudah. Lancar jaya. Ya Allah, semoga urusan ini terus dipermudah sampai nantinya saya dan ayah bisa umroh. Kemudian kembali ke rumah dengan selamat. Buat yang baca ini, mohon doanya ya :D
Terus, buat yang baca ini tapi belum umroh, semoga Allah mudahkan untuk umroh atau bahkan haji! Aamiin YRA.
Salam,
Marina.
Tuesday, June 26, 2018
Pengalaman Membuka Tabungan Haji di BRI Syariah
Saya senang sekali jalan-jalan.
Jalan-jalan merupakan hal yang dapat membantu saya melepas stress, menyalurkan
energi saya dalam bentuk aktivitas fisik, dan memuaskan rasa ingin tahu
terhadap berbagai hal baru 😊 Pokoknya hampir selalu happy deh kalo
jalan-jalan. Nah, kalau saya bilang mau jalan kesini, kesana, kesitu, Ibu saya
pasti akan bilang “Jalan-jalan melulu, kapan haji nya?”. Atau bahkan ketika
saya bilang saya bercita-cita ke Jepang, Ibu saya bilang “Cita-cita kok ke
Jepang… Cita-cita itu pergi haji!”
Yah, gimana ya Mak. Saya juga
punya cita-cita pergi haji kok, tapi ngga terucap aja ke Mak.
Perasaan saya campur aduk saat
itu. Ketika saya cerita ke teman saya, dia bilang “Buat apa mempertentangkan
hobi dan kewajiban pergi haji bila mampu? Pergi haji itu kan usahanya bisa
dicicil. Yaudah cicil aja dulu.”
Saat itulah saya mendapat
pencerahan bahwa saya perlu segera mencicil usaha pergi haji. Langkah awalnya
adalah membuka tabungan haji. Ya gak. Yang penting ada niat, cicil menabung,
sambil menyeimbangkan hidup. Hehehe.
Sebelum buka tabungan haji,
tentunya saya riset dulu mengenai tabungan haji yang ada di Indonesia. Pilihan
saya jatuh ke Bank Syariah karena ingin memulai ibadah ini dengan baik. Meski kata
ayah Bank Syariah di Indonesia itu ngga ada yang murni syariah, paling tidak
saya mencoba.
Untuk membuka tabungan haji, dokumen
yang perlu dibawa antara lain:
- KTP Asli,
- NPWP asli (kalau tidak punya, tidak apa-apa, nanti akan dibuatkan surat keterangan tidak punya npwp), dan
- Fotokopi Kartu Keluarga.
Selanjutnya, setelah baca
berbagai artikel di internet, pilihan saya jatuh ke BRI Syariah.
![]() |
| Leaflet Tabungan Haji BRI Syariah |
Yang bikin saya
tertarik untuk menabung di BRI Syariah adalah:
- Gratis biaya administrasi tabungan,
- Tabungannya TIDAK BISA diambil kapan saja. Awalnya kaget sih (beneran deg-deg-an) ketika Mba CS mengonfirmasi hal tersebut. Tapi setelah mikir…karena niatnya untuk haji, baguslah kalau ngga bisa diambil kecuali untuk urusan haji. Lalu saya tanya, kira-kira kalau saya meninggal di tengah masa menabung, bagaimana? CSnya bilang, kalau jumlah tabungannya belum sampai 25 juta nanti bisa tutup rekening haji BRIS dan uang tabungan akan diberikan pada ahli waris; kalau jumlah tabungan sudah sampai 25 juta dan sudah dapat nomor porsi haji, berarti harus urus dulu ke Depag (akan makan waktu kurang lebih 1 – 2 bulan), lalu urus penutupan rekening di BRIS, dan uangnya akan diberikan ke ahli waris. Tenang deh setelah dengar keterangan tersebut.
- Ada asuransi jiwa dan kecelakaan (biaya asuransi jiwa dan kecelakaan yang ditanggung mungkin hanya berlaku saat berhaji saja, saya lupa tanya detail mengenai hal ini).
Terus terang, pelayanan saat saya
datang tergolong agak lama. Untuk 3 orang yang mengantri (termasuk saya) saya
perlu menunggu sekitar 40 menit. Hahaha. Begitu giliran saya membuka tabungan,
saya diminta untuk mengisi 2 berkas (yang kayanya bisa deh diisi selagi
menunggu giliran). Di salah satu berkas yang saya isi, ada kolom "Potongan zakat 2.5% dari nisbah" dengan pilihan jawaban "Ya" dan "Tidak". Kalau kita pilih "Ya" artinya nisbah (uang bagi hasil) akan dipotong secara otomatis. Yang dipotong hasil bagi hasilnya saja, jadi uang
yang kita tabung ngga akan dipotong. Berhubung saya ga paham-paham amat apakah
potongan zakat dari nisbah itu wajib atau ngga, saya pilih “Iya”. Saya pikir enak
juga ga perlu pusing itung zakatnya. Yowis otomatis aja. Setelah isi-isi dan
tanda tangan…
Alhamdulillah! Akhirnya JADI juga
Marina buka tabungan haji. Yeaaay. Di akhir sesi bikin tabungan, Mba nya bilang
semoga berkah. Saya jadi merasa “adem” dan mengaminkan doa si Mba CS.
Sekian dulu cerita hari ini. Doain
saya ya semoga saya beneran bisa pergi haji. Kalau bisa sih berangkatnya
bareng pasangan x)
Aamiin-in aja ya pemirsah.
Hehehe.
Subscribe to:
Posts (Atom)
